Memulai Universitas Riset

Oleh | 30 November 2010 | Opini

Penyelenggaraan perguruan tinggi (PT) di Indonesia didasarkan pada tridharma, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Dharma pendidikan dan pengajaran menekankan aspek perbaikan moral dan etika yang berlatarbelakang keilmuan untuk membentuk manusia berkarakter. Untuk mengemban tugas ini, dosen menjadi tulang punggung PT. Dosen dituntut memiliki moral, idealisme, dan ilmu pengetahuan yang memadai sebagai identitasnya agar dapat dijadikan contoh dan teladan. Dharma penelitian atau riset bertujuan mengembangkan sikap kreatif dan mendorong rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu akan memunculkan hal-hal baru. Sikap kreatif selalu merangsang sebuah perubahan atau inovasi. Dalam konteks ini, PT diharapkan mampu menciptakan pengetahuan baru. Dharma pengabdian pada masyarakat bertujuan membangun masyarakat atau komunitas dengan memanfaatkan kekayaan ilmu pengetahuan dan tenaga-tenaga terdidik dari institusi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran. Jadi, peran PT tidak semata-mata menghasilkan kaum terpelajar melalui transfer pengetahuan tetapi juga menciptakan pengetahuan baru serta agen penggerak perubahan dalam masyarakat. PT dipandang sebagai institusi yang memiliki pengetahuan paling lengkap dan terkini.

Ironisnya, PT di Indonesia, termasuk UKSW, masih menerapkan kurikulum dengan pola tatap muka yang sangat ketat melalui perkuliahan di ruang kelas. Hal ini terjadi terutama pada program-program sarjana (S1) dan pascasarjana (S2). Setuju atau tidak setuju, kondisi seperti ini secara otomatis membawa institusi terjebak dalam bentuk pengelolaan teaching university yang menempatkan pengajaran sebagai kegiatan utamanya. Sesungguhnya hal ini mirip dengan pengelolaan Harvard, Yale, dan beberapa college lain di Amerika lebih dari dua ratus tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan pegawai pemerintah saat itu. PT lantas berkonsentrasi pada pembukaan akses seluas-luasnya dengan tujuan mendapatkan mahasiswa sebanyak-banyaknya. Sumber utama pendanaan sangat terpusat pada SPP dan uang SKS. Kalau toh ada aktivitas riset dan pengabdian masyarakat, itu masih sebagai kegiatan pelengkap atau sampingan yang tidak wajib dilakukan.

Institusi kadang merasa tidak ada keharusan melakukan investasi melalui riset. Tidak ada mimpi meningkatkan pembiayaan operasional melalui pendapatan atas hasil-hasil riset. Jadi, masih jauh dari apa yang diamanahkan dalam tridharma. PT yang hanya bertumpu pada aspek pengajaran berisiko dalam menjaga eksistensi jangka panjang.

Agar tidak terus-menerus terjebak dalam pengelolaan model teaching university, maka perlu dilakukan perubahan. Perubahan dimaksud untuk menyeimbangkan kegiatan pengajaran dan riset serta mengaitkannya dengan kebutuhan masyarakat dalam perspektif pemecahan masalah sosial dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Pergeseran pengelolaan dari teaching university menjadi reseacrh university atau universitas riset (UR) merupakan hal yang strategis dan mendesak untuk dimulai. Minimal ada tiga hal yang mendasarinya. Pertama, UR mendidik pemimpin masa depan dalam proses mencari dan menciptakan pengetahuan. Kedua, menerapkan pengetahuan baru dalam masyarakat. Ketiga, berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup melalui inovasi teknologi.

Istilah “universitas riset” telah banyak dibahas, di antaranya oleh Dodi Nandika dkk dalam buku Universitas Riset dan Daya Saing Bangsa (2006), atau Nannerl O. Keohane dan Daedalus dalam artikel The Mission of the Research University (1993). Pada intinya, UR berbeda dengan universitas konvensional dalam hal bobot perhatiannya terhadap pentingnya mencipatakan pengetahuan baru. UR memosisikan riset sebagai kegiatan yang sama pentingnya dengan kegiatan pengajaran. Keunggulan dalam riset secara eksplisit menjadi tujuan utama pengelolaan PT.

Memulai UR harus diletakkan dalam tiga fenomena global saat ini. Pertama, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) berkembang luar biasa cepat. Berkat kemajuan iptek, PT dan industri semakin mampu melakukan riset berkualitas dan inovasi yang berujung pada penemuan-penemuan spektakuler. Jelas juga bahwa kemajuan iptek telah menjadi pondasi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Kedua, informasi berjalan sangat cepat seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). TIK secara dramatis telah mengubah pola interaksi dan komunikasi. Bayangkan bagaimana bekerja tanpa surat elektronik, Google, atau telepon genggam. Informasi-informasi penelitian terkini dapat diakses dalam waktu singkat melalui jurnal online. Informasi penting dapat disebarkan di seluruh penjuru dunia dalam hitungan detik. Fenomena ini menghendaki PT bekerja secara efisien disertai dengan semangat berkompetisi yang tinggi. Ketiga, pembentukan jejaring yang semakin kompleks. Keluwesan pengelolaan institusi diperlukan dalam membangun jejaring agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dalam waktu yang relatif singkat dan biaya yang relatif rendah.

Mengubah teaching university menjadi research university bukan hal yang sederhana dan instan. PT di Amerika membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk melakukan hal itu. ITB, UI dan Undip mengaku membutuhkan lebih dari sepuluh tahun untuk mulai menapakkan kakinya menjadi UR. Perubahan itu bukan hanya membutuhkan biaya yang besar dan fasilitas yang memadai tetapi juga perubahan kultur dosen dari yang belum biasa menjadi biasa melakukan riset. Kebiasaan melakukan riset harus menjadi bagian dari diri tiap dosen agar suasana riset itu menjadi pemandangan biasa.

Langkah awal menuju UR
Apa saja langkah awal menuju UR? Paling tidak ada delapan hal yang bisa dilakukan. Pertama, libatkan mahasiswa dalam berbagai riset dan tugas akademik. Selain pembelajar, mahasiswa harus dilihat sebagai mitra dosen. Di Australia, Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa, dana riset tersedia cukup tetapi kekurangan tenaga peneliti. Tidak heran jika mereka mengundang calon mahasiswa S2 dan S3 dari negara lain termasuk dari Indonesia agar dapat dijadikan asisten riset. Dosen memiliki banyak pengalaman tetapi ide-ide brilian dapat saja muncul dari mahasiswa.

Kedua, lakukan perubahan kurikulum dan strategi pembelajaran. Seperti yang disinggung di depan, hampir seluruh waktu perkuliahan mahasiswa dijejali dengan matakuliah yang membutuhkan pertemuan intensif dosen-mahasiswa di ruang kelas. Keadaan seperti ini sebetulnya dapat dibuat lebih rileks dengan menggunakan teknologi informasi, misalnya e-learning atau flexible learning. Sedikit sekali matakuliah yang memberi kesempatan mahasiswa belajar melalui kegiatan riset. Kendala yang paling utama adalah resistensi di tingkat program studi yang mungkin terlalu konvensional memandang bahwa semua matakuliah adalah penting bahkan harus dimasukkan sebagai matakuliah wajib.

Ketiga, kendalikan tugas akhir mahasiswa. Tugas akhir barangkali satu-satunya matakuliah yang tidak mewajibkan tatap muka di ruang kelas tetapi benar-benar belajar melalui riset. Sayangnya topik-topik dari tugas akhir ini masih bersifat parsial dan tidak berkelanjutan, padahal jumlahnya cukup besar. Sebagai ilustrasi, di UKSW terdapat 3.000 judul riset tugas akhir yang diselesaikan mahasiswa tiap tahun. Jika tidak dikendalikan, maka terus-menerus akan terjadi kesia-siaan atas biaya, tenaga, serta waktu yang sudah diluangkan. Tugas akhir perlu dijadikan bagian dari kerangka rencana riset dosen, progdi, atau pusat studi agar sejalan dengan tema riset yang akan dikembangkan. Ada berbagai keuntungan yang dapat diperoleh dengan cara ini. Misalnya, mahasiswa memperoleh bimbingan yang berkualitas karena memang sesuai dengan bidang dan minat pembimbingnya, mempercepat penyelesaian tugas akhir dan target-target riset yang ditetapkan, mempromosikan mahasiswa melalui publikasi bersama sekaligus menghindari praktik-parktik plagiarisme dan maraknya penyelesaian tugas akhir melalui pesanan di biro jasa. Saat ini UKSW mendorong perubahan struktur tugas akhir mahasiswa dari jilidan laporan yang biasanya tersimpan di perpustakaan menjadi manuskrip yang siap dipublikasikan di jurnal atau seminar internasional atau nasional, atau paling tidak dimuat pada jurnal ekeronik (Satya Wacana e-journal) yang ada pada setiap fakultas atau progdi.

Keempat, melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat secara holistik. Hasil-hasil riset seyogyanya digunakan untuk pemutakhiran bahan-bahan ajar. Memang dapat saja temuan-temuan mendasar beberapa tahun silam masih dijadikan bahan rujukan karena masih relevan. Kegiatan pengabdian masyarakat perlu dikaitkan dengan hasil-hasil riset agar dapat dikaji kembali relevansi dan tingkat aplikasinya. Hasil-hasil riset akan mendapatkan tempat di hati masyarakat jika riset itu membawa manfaat.

Kelima, semua atau sebagian hasil riset dipublikasikan atau dipatenkan. Kegiatan publikasi dilakukan bukan hanya pada jurnal-jurnal internasional atau nasional tetapi juga pada seminar atau temu ilmiah baik nasional maupun internasional, kuliah tamu, lokakarya dan penulisan buku. Seminar atau temu ilmiah merupakan tempat yang strategis untuk memperoleh masukan dan menggali ide-ide baru. Oleh sebab itu, dosen dan mahasiswa perlu terlibat aktif dalam berbagi kesempatan dan membudayakan penyelenggaraan pertemuan ilmiah.

Keenam, salah satu indikator utama UR berdasarkan klasifikasi adalah porsi sumber dana institusi terkait riset yang harus terbesar dibandingkan sumber pendanaan lain. Dana memang sangat menentukan keberhasilan riset, meskipun harus diakui ada pula hasil riset yang sukses tanpa memerlukan dana besar. Perlu diversifikasi pendanaan riset baik dari Pemerintah maupun industri atau lembaga-lembaga internasional. Pemerintah melalui Dikti dan Ristek saat ini mulai memperbesar alokasi dana riset yang bersifat kompetitif dan terbuka bagi PTN maupun PTS. Untuk merespon, perlu penguatan dosen dalam hal merancang tema riset, menuangkannya dalam bentuk proposal, melaksanakan riset, dan memublikasikannya. Bentuknya antara lain berupa lokakarya dan kompetisi internal. Mulai tahun 2010 UKSW mengalokasikan dana riset dan pengabdian masyarakat bagi dosen yang harus diraih melalui kempetisi. Meskipun dana yang disediakan masih dianggap terlalu kecil, yaitu Rp 1,5 miliar, tetapi setidaknya mampu melibatkan sekitar 108 dosen dari 51 judul. Dalam rangka ini pula diselenggarakan lokakarya dengan tema “Winning your research grant and publish your work”.

Ketujuh, penataan pusat studi. Pusat studi baik pada aras universitas mapun program studi perlu mendapat peran memadai agar memiliki kemampuan pengelolaan riset serta menghimpun dana riset.

Kedelapan, perlu ada kebijakan internal yang secara sitematis menjaga komitmen terkait biaya, tenaga dan fasilitas. Perlu ada ukuran kinerja dosen yang berorientasi bukan hanya pada tugas pengajaran tapi juga riset dan publikasi serta konsekuensinya terhadap sistem reward and punishment. Selain itu perlu penerapan concept of no boundaries. Sistem pengotakan berdasarkan fakultas-fakultas yang mirip dengan pengotakan puluhan tahun silam cenderung mendorong kita berpikir dan bekerja secara monodisipliner. Padahal, persoalan-persoalan yang ada memerlukan pemecahan dengan pendekatan multidisipliner. Barangkali pengelompokan program-program studi berdasarkan tema permasalahan yang dihadapi lebih penting ketimbang pengelompokan berdasarkan rumpun disiplin ilmu itu sendiri. Lakukan benchmarking untuk menentukan target dan evaluasi capaian dalam rangka menuju universitas riset.

Tentunya, tidak ada seribu langkah yang tidak dimulai dari langkah pertama.

Ferdy Rondonuwu, pembantu rektor V


Komentar (4)

  1. WH says:

    Menurut saja…!!!
    berpikir prakmatis di saat kekinian memang sedang terjadi atau dalam proses. Bilamana kurukulum bersaing dengan kurikulum PT di Luar Negeri saya kira itu sulit untuk dilaksanakan.
    Skill dan Inovasi WNI tak mungkin harus disamakan dengan skill dan Inovasi WNA, karena bila terjadi penyaamaan Skill dan Inovasi, maka akan terjadi persaingan Tenaga Kerja yang berimbang antara WNA Vs WNI.
    Guna menjaga hal tersebut maka WNI dipaksakan menggunakan sistem terpimpin, yaitu terpimpin oleh para pengajarnya. Serta para pengajarnya terpimpin oleh Penguasa domestik yang mengusai sistem pendidikan (menteri). Sang penguasa dipimpin oleh penguasa asing.
    Persaingan skill dan Inovasi tentunya akan berdampak kepada pendapatan di suatu negara.

    (Ironis….!!!?)

  2. sastrostroek says:

    Yth. Pak WR V….
    Bagaimana dengan mutu dosennya? Terutama untuk point Tri Dharma PT? Kalau bapak mau mendarat di FSM…..terutama kimia…..menyedihkan sekali…..yang paling spesial….ada satu dosen yang masuk kategori LUPING (Lupa lupa Ingat)…banyak mahasiswa yang mengeluh tentang pengajarannya dan pas jam kerja justru beliau tidur ternina bobokkan oleh para “cleaning service” yang sedang bercengkerama di kursi dekat WC belakang, kalau matanya melek dan buka komputer langsung ngenet yang XXX….Waaahhhh bisa-bisanya punya jam kerja yang melebihi dosen normal…..apa tidak hueeebattthhh….Apa karena dia suami dekan sehingga dapat fasilitas seperti itu???? Kapan dong UKSW benar-benar management by quality kalau hal-hal seperti ini selalu ditolerir bahkan didukung penuh?????

  3. Neil says:

    Sayang sekali, minim sekali tanggapan terhadap sebuah tulisan yang berposisi sebagai cerminan strategi dan kebijakan UKSW, sesuatu yang merupakan platform tempat pijakan bersama sebagai sebuah komunitas kampus. Mudah2an minimnya tanggapan ini berarti semua paham apa yang hendak dikerjakan, setuju dengannya, dan siap atau bahkan sudah melaksanakan sebagian elemennya, dengan sepenuh hati. Namun, kasus-kasus di UKSW menunjukkan yang sebaliknya yang seringkali terjadi. Bahkan, yang sudah disepakati saja pun bisa dijadikan “bahan perkara” dan karena ada “arus balik”, maka sebuah kebijakan bisa digonta-ganti. Celakanya itu dilakukan tanpa dasar pijakan yang kokoh tentang masa depan universitas ini mau dibawa ke mana. Karena itu, saya khawatir, minimnya tanggapan ini pun bermakna seperti itu. Wait and see, tidak mau tunjukkan dukungan ataupun ketidaksetujuan. Kalaupun dilaksanakan, maka ya asal dilaksanakan, sampai tiba waktunya untuk “mbalelo”. Semoga tidak demikian. Interpretasi kedua, mudah2an minimnya tanggapan ini tidak memberi lagi bukti kesekian bahwa UKSW sebagai sebuah komunitas ilmiah adalah komunitas ilmiah yang dingin, tidak pedulian, kehilangan spirit intelektualnya, spirit mana seringkali tampak dalam keterbukaan dan kehangatan berdialog, memertukarkan perspektif-perspektif keilmuan, juga pandangan-pandangan tentang kebijakan-kebijakan pengembangan ilmiah. Jika itu yang terjadi, mau dibangun di atas apa komunitas UKSW ini? Ibarat membangun rumah di atas pasir, jangan sampai itu yang terjadi; membangun komunitas ilmiah tanpa gairah ilmiah yang cukup. Jika saja demikian, kita bisa menuju ke masa depan yang suram karena kadang susah untuk “menoleh kembali ke belakangan”. Hal-hal yang kurang tidak bisa dengan mudah ditutupi di kemudian hari, kecuali ada waktu dan kita sanggup mengerjakan semuanya sekaligus. Mudah2an tidak demikian. Mudah2an semuanya baik-baik saja. Mudah2an di “dunia nyata” UKSW sudah melangkah maju sebagaimana harapan PR5 dalam tulisan ini. Semoga…

    salam

  4. alcino says:

    bisa bantu tentang mata kuliah riset operasi

Kami menerima pandangan Anda